Resensi: Robohnya Surau Kami (A.A Navis)

AA Navis, seorang penulis asal sumatera barat yang dikenal kritis terhadap kehidupan sosial. Kritikan-kritikan sosial dialirkan dalam berbagai tulisannya untuk menyadarkan apa yang terjadi dari sudut pandang yang berbed. Salah satu karya itu dapat dilihat dari cerpen karyanya “Robohnya Surau Kami”

Robohnya surau kami, cerita pendek yang berisi pendeskripsian hidup seseorang yang hanya memandang hidup pada tuhan. menceritakan seorang kakek penjaga surau yang menjalani hidupnya di surau. kehidupannya tidak lepas dari surau. Kesibukan lain yang dilakukannya selain itu adalah mengasah pisau.

Kehidupan kakek yang hanya mengambakan diri kepada tuhan, dinarasikan oleh seorang warga yaitu Ajo Sidi. Ajo Sidi terlibat percakapan dengan kakek. Kakek diibaratkannya sebagai seorang yang bernama Haji Saleh. Dia bererita tentang Haji Shaleh yang bertemu tuhan.

Tuhan menanyakan tentang apa yang dilakukannya diatas dunia. Haji Shaleh terdiam ketika seua yang dilakukannya didunia telah disebutkan kepada Tuhan.

Allah menyuruh Haji Shaleh ke neraka karena seluruh aktifitas yang dilakukannya hanya bersifat hubungan kepada Allah. Haji Shaleh tidak mengacuhkan hubungan sesama . Allah tidak menginginkan umatnya yang hanya mementingkan kehidupan akhirat tetapi  tuli dan buta dalam kehidupan dunia.

Unsur perkampungan juga memberi latar yang pas dalam penceritaan. Pembaca dibawa menelusuri latar perkampungan yang masih kental. Dimana anak-anak bermain di surau, ataupun ibu-ibu yang suka mencopoti papan pada malam hari untuk kayu bakar.

Hal menarik dari cerpen robohnya surau kami terletak pada bagaimana AA Navis mengakhiri cerita dengan kejadian yang tak terduga. Hal menarik lainnya terlihat pada bagaimana AA Navis memainkan narasi dengan bahasa kiasan yang menggelitik.

Robohnya surau kami bukanlah menceritakan sebuah bangunan tempat ibadah yang hancur. Cerita pendek ini lebih mengkiaskan cerita pelaku didalam agamalah yang merobohkan nilai-nilai agaa yang ada. Jika menyukai cerita pendek yang sarat akan nilai kritis sosial, cerita ini merupakan cerita yang menyegarkan. Membuka mata kita pada hal yang tidak terperhatikan dengan seksama.

About these ads

Posted on May 6, 2011, in resensi buku. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: